MASYARAKAT BETAWI DAN KEBUDAYAANNYA

on Selasa, 17 Februari 2009


1. Antara Fakta dan Pengakuan

Lepas dari sejarahnya, termasuk asal-usul sebutan Betawi, yang menurut saya masih diliputi kabut misteri, belum tuntas dibahas oleh para pakar, saya bertolak dari kenyataan mengenai eksistensi kaum Betawi, yakni dari hasil sensus penduduk tahun 1930.

Sensus penduduk tahun 1930 mencatat data mengenai jumlah penduduk berdasarkan penggolongan etnis. Kriteria yang digunakan untuk membedakan etnis-etnis itu adalah bahasa, kebiasaan, adat-istiadat, ras, geografi dan lokasi pemukiman (Volkstelling 1930. VIII, 1936: 44; Suparlan, 1979:57). Menurut hasil sensus penduduk tersebut, pada tahun 1930 orang Betawi di seluruh Indonesia berjumlah 980.863 jiwa, kurang lebih 1,66% dari jumlah seluruh orang Indonesia waktu itu, yaitu 59.138.067 jiwa. Jumlah orang Betawi itu menempati urutan kedelapan terbesar dalam komposisi jumlah penduduk Indonesia atas dasar penggolongan etnis, sebagaimana tampak pada tabel di bawah ini.

Nomor Urut

Nama Etnis

Di Jawa & Madura

Luar Jawa & Madura

Jumlah

1.

Jawa

28.841.474

967.149

27.808.623

2.

Sunda

8.466.327

128.597

8.594.834

3.

Madura

4.289.850

16.003

4.305.862

4.

Minang

5.117

1.983.531

1.988.648

5.

Bugis

4.593

1.528.442

1.553.035

6.

Batak

2.459

1.205.055

1.207.514

7.

Bali

993

1.110.666

1.111.659

8.

Betawi

956.507

24.356

980.863

9.

Melayu

17.329

936.068

980.963

10.

Banjar

3.286

895.598

898.884

Sumber: Volkstelling 1930,VIII,1936:13

Sukar dipastikan, berapa jumlah orang Betawi sekarang ini. Kesukaran itu disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, dewasa ini orang Betawi tidak berdomisili di satu tempat saja, melainkan telah terpencar di beberapa tempat yang terpisah. Selain itu, mereka hidup bercampur dengan atau berada di tengah-tengah etnis lain. Kedua, di wilayah budaya Betawi sendiri sudah lama bermukim sejumlah orang dari kalangan etnis lain dalam jumlah yang tidak sedikit, serta telah beranak-pinak pula. Ketiga, telah banyak terjadi perkawinan antar etnis. Banyak pria Betawi menikah dengan wanita di luar etnis Betawi. Banyak pula wanita Betawi menikah dengan pria luar etnis Betawi. Hasil pernikahan demikian, mungkin melahirkan orang Betawi, mungkin pula menurunkan bukan orang Betawi, tergantung kepada sikap orang tuanya dan sikap anak itu sendiri terhadap kebudayaan Betawi, sikap orang lain terhadap anak-anak itu, dan tempat atau lingkungan anak itu dibesarkan. Keempat, sensus penduduk dan pencatatan statistik akhir-akhir ini (sejak tahun 1961), mengabaikan masalah asal-usul atau identitas etnis. Mungkin karena masalah etnis dianggap sebagai masalah rawan bagi kepentingan persatuan nasional (Koentjaraningrat, 1984: 8).

Pada tahun 1930 orang Betawi yang berdomisili di wilayah Kabupaten Batavia (Jakarta) dan Kabupaten Meester-Cornelis (Jatinegara) termasuk Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bekasi sekarang berjumlah 778.753 jiwa. Orang Betawi yang menetap di wilayah Kabupaten Bogor pada waktu itu berjumlah 142.957 jiwa (Volkstelling, 1930, I,1933: 152-153), terutama tersebar di wilayah Kewedanaan Parung, Cibinong dan Cibarusa. Komunitas orang Betawi yang bermukim di wilayah Kabupaten Karawang pada waktu itu antara lain di wilayah Kecamatan Pedes (Budhisantoso, 1977) dan Kecamatan Batujaya (Muhadjir, 1986).

Sekalipun angka-angka yang disajikan tidak cukup rinci terurai tetapi saya kira cukup memberikan gambaran demografis Kaum Betawi berdasarkan kriteria ke-etnis-an yang digunalan dalam penyelenggaraan sensus penduduk tahun 1930.

Ketika saya mulai terjun menggeluti profesi saya sebagai calo kesenian Betawi pada awal tahun tujuhpuluhan abad yang lalu, saya membuat batasan (definisi) mengenai orang Betawi. Sudah barang tentu batasan yang sama sekali tidak ilmiah, karena memang hanya untuk kepentingan saya sendiri, yaitu: Orang Betawi adalah mereka yang sehari-hari menggunakan bahasa Betawi, serta menjunjung kebudayaannya. Berdasarkan batasan tersebut, sambil berpedoman pada hasil sensus penduduk tahun 1930, saya mencoba menelusuri berbagai pelosok wilayah budaya Betawi, mencari bentuk-bentuk kesenian tradisional yang dapat saya jual.

Di lapangan ternyata bahwa batasan yang saya buat dan kriteria yang digunakan pada sensus tahun 1930 itu terbentur pada pengakuan. Sebagian orang Betawi Tengah tidak mau mengakui kesenian yang dianggap tidak Islami sebagai kesenian Betawi. Katanya, kesenian Betawi hanya rebana, gambus, samrah dan sahibulhikayat. Sedang orang Betawi Pinggiran mereka bukan mengaku orang Betawi, walau pun sehari-hari mereka berbicara dalam Bahasa Betawi, dialek setempat, secara turun-temurun. Buat mereka, rupanya, kata Betawi adalah nama tempat, nama kota yang sekarang menjadi Jakarta. Pendapat demikian itu sama dengan pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Banten. Demikianlah maka beberapa bentuk kesenian dikenal menurut tempat kedudukannya, seperti “topeng Cisalak”, “wayang kulit Tambun”, sekali pun bahasa yang digunakan secara turun temurun adalah Bahasa Betawi.

Kalau pengisian Museum Folklor Betawi akan bertolak dari kriteria yang ditetapkan dalam penyelenggaraan sensus penduduk tahun 1930, maka aspek seni budayanya yang meliputi seni musik, seni tari, seni rupa, seni sastra (lisan), seni teater dan pedalangan, menurut hemat saya akan cukup luas dan bervariasi.

3. Seni Budaya Betawi

Aspek seni budaya dari koleksi Museum Folklor Betawi, menurut bayangan saya, meliputi semua jenis dan bentuk kesenian tradisional Betawi dari seluruh wilayah budaya Betawi, termasuk yang dewasa ini sudah punah. Di samping berbentuk fisik, buat yang dianggap perlu agar lebih informatif, koleksi itu sebaiknya dilengkapi pula dengan rekaman suara, rekaman gambar, atau rekaman suara dan gambar, dengan memanfaatkan teknologi mutakhir.

Menurut hemat saya, cukup banyak dan beraneka ragam aspek seni budaya yang dapat dijadikan koleksi Museum folklor Betawi. Sebagai contoh, mengenai alat musik. Di samping alat musik yang dewasa ini masih kita saksikan, seperti alat-alat musik gambang kromong, gamelan topeng, samrah dan sebagainya, menurut hemat saya, perlu pula dikoleksi alat-alat musik yang orang Betawi sendiri mungkin jarang mengetahuinya, seperti alat musik dari bambu yang terdapat di daerah pinggiran waktu masih bersifat agraris, yaitu sampyong dan calung.

Orkes sampyong pada masa yang lalu biasa digunakan untuk mengiringi pemain ujungan, terdiri dari sampyong, keprak, gambang bambu empat bilah, dan ada pula yang dilengkapi dengan dua buah tanduk kerbau. Yang disebut sampyong, adalah kordofon bambu dua dawai, yang di Priangan biasa disebut celempung, di Banyumas disebut gumbeng. Alat musik seperti itu cukup luas penyebarannya di Nusantara, bahkan konon terdapat pula di Muang Thai Utara, Kamboja, Laos dan Malaysia.

Calung yang sampai tahun duapuluhan masih ada yang menggunakannya sebagai pengiring pergelaran wayang kulit Betawi, bentuknya tidak jauh berbeda dengan calung Banyumas, berbeda dengan calung di Pasundan yang biasa disebut calung rantay.


0 komentar:

Poskan Komentar